English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Informasi berita tentang kandidat caleg, pemilukada dan pilpres di Indonesia - Kontak Redaksi: (021)271.01.381 - (021)606.36235, Hotline: 08787.882.1248 - 081.385.386.583

Korupsi jangan dijadikan budaya! Pilih pemimpin yang cinta rakyat, bukan cinta kekuasaan! Bagian Iklan Hubungi (021)27101381 - 081385386583


Showing posts with label Kandidat. Show all posts
Showing posts with label Kandidat. Show all posts

Saturday, October 11, 2008

Inikah modal dan model diri Anda menjadi CALEG di Pemilu mendatang?

Kesalahan (blunder) yang sering dilakukan politisi belum berpengalaman adalah:

  1. Membiarkan sesama tim untuk saling berebut cari perhatian tanpa kerja.
  2. Mempercayakan pekerjaan profesional pada keluarga atau teman dekat.
  3. Tak memiliki jadwal pasti kapan dan dimana rapat atau kegiatan pertemuan diadakan.
  4. Tak memiliki agenda rapat yang jelas.
  5. Tak menunjuka pemimpin rapat yang kompeten karena merasa sang pemimpin (sang kandidat) bisa sendiri.
  6. Melibatkan orang-orang baru dalam setiap rapat atau pertemuan tanpa penjelasan sebelumnya kepada tim.
  7. Tidak ada perencanaan dan evaluasi karena lebih memilih improvisasi dadakan.
  8. Kerap muncul kebingungan karena tak ada penjelasan tentang apa yang sudah dan sedang dan akan dikerjakan tim.
  9. Membiarkan banyak juru bicara dan pengatur acara hingga potensial saling bertabrakan. Akibatnya pihak luar merasa dipermainkan sementar yang bersangkutan berusaha cuci tangan selamatkan muka.
  10. Menggunakan fasilitas birokrasi pemerintah untuk penggalangan kepentingan pribadi.
  11. Menjadikan karyawan di pemerintahan sebagai tim kampanye.
  12. Menggunakan waktu dan enerji birokrat yang mestinya untuk pelayanan publik menjadi pelayan kepentingan pribadi.
  13. Melibatkan pejabat militer yang masih dan sedang aktif sebagai tim kampanye.
  14. Tak ada grand design tentang bagaimana sesungguhnya strategi dan taktik untuk menang.
  15. Tak ada perencanaan tentang kapan eksekusi grand design tersebut, siapa eksekutor, bagaimana evaluasi dan sanksi jika terjadi kekeliruan.
  16. Struktur organisasi dibuat hanya untuk aksesoris, karena sang kandidat sendiri dan keluarga yang mengatur semuanya.
  17. Pendelegasian kerja sering tumpang tindih antar satu tim dengan tim lainnya.
  18. Pidato makro ekonomi saat rakyat di lingkungannya lapar membutuhkan nasi.
  19. Hobi meetang-meeting hasil nothing.
  20. Lebih suka bicara ketimbang mendengar
  21. Rajin bayar konsesi pada cukong dan elite koalisi hingga menjadi ekonomi biaya tinggi.
  22. Menikmati kecemasan orang lain dalam penantian.
  23. Lebih memilih tawar menawar posisi ketimbang kehilangan kursi.
  24. Merasa terancam secara psikologs jika ada orang lain yang lebih cerdas.
  25. Cepat lupa pada orang yang berjasa ketika hajat mendesaknya sudah terpenuhi.
  26. Bagi-bagi ursi untuk famili.

Bila di atas adalah kesalahan blunder yang sering dilakukan politisi tak berkualitas, maka inilah citra yang akan dilihat publik dalam diri kandidat caleg, pilkada atau pilpres:

  1. Pintar namun tidak cerdas
  2. Tidak piawai mengorkestrasi potensi dan legitimasi
  3. Peragu dan tak tegas
  4. Kerap janji dan jarang bukti
  5. Instruksi-instruksi tanpa aksi dan sanksi
  6. Anti kritik dan doyan pujian
  7. Phobia unjuk rasa karena erbiasa upacara
  8. Wira-wiri ke luar negeri (luar kota) saat tsunami (bencana) silih berganti di tengah masyarakat.

Berikut ini hal-hal lain yang membuat para kandidat (caleg, cabup, cawabup, cawali, cagub, capres) tidak akan terpilih:

1. Berkampanye saat rakyat sedang berduka entah karena ditimpa kelaparan, bencana silih berganti.

2. Berkampanye saat umat beragama sedang khusyuk menjalankan ibadah.

3. Sering-sering berbohong pada media

4. Muncul dengan gaya orang lain dan bukan diri si kandidat yang sebenarnya.

5. Selalu serius dan tak pernah sekalipun humor saat bicara di depan umum.

6. Tak pernah menjawab apa yang ditanya media tapi berbicara apa yang kandidat mau.

7. Berulang-ulang mengutarakan kebanggan kandidat atas prestasi yang sudah kandidat buat sehingga orang menjadi muak karenanya.

8. Mengatakan bahwa kandidat adalah keluarga yang paling berbahagia di banding lawan politiknya.

9. Tak memiliki database lengkap nama-nama media massa cetak ataupun elektronik, baik di daerah maupun di pusat.

10. Tak ada pemetaan tentang siapa pemilik, pengelola dan para wartawan media massa.

11. Tak ada anggota tim yang masing-masing bertanggung jawab terhadap setiap media massa.

Kontras

  1. Gaya dan bicara kandidat tak berbeda dari lawannya.
  2. Materi atau isu yang diangkat dalam kampanye tidak menarik
  3. Problem dan solusi yang kandidat tawarkan tak berbeda dengan lawannya.
  4. Penampilan kandidat biasa-biasa saja tak membuat orang terpana.
  5. Kandidat tak mempunyai warna khas istimewa yang jadi ciri atau merk kandidat.
  6. Sajian atau atraksi panggung kampanye kandidat membosankan,

Koalisi

  1. Kampanye kandidat tak melibatkan tokoh-tokoh lain yang punya reputasi di tengah masyarakat
  2. Kandidat menutup diri berkoalisi dengan partai atau kelompok masyarakat lain.
  3. Tak pernah ada keran komunikasi dengan jaringan akar rumput ataupun elit politik.

Konfiden (Rasa Percaya Diri)

  1. Kandidat memperlihatkan rasa tak percaya diri bahwa ia akan menang.
  2. Lebih mempercayakan orang lain baik keluarga saat seharusnya kandidat menyampaikan sesuatu penjelasan kepada media.
  3. Kuatir menggunakan media, karena kekurangannya bisa terekspos bila salah ucap dan salah bicara. Dan tidak berusaha untuk membuat press-release atau konsep jawaban yang tertulis atas setiap kejadian yang datang.

Kapital

  1. Kandidat tak punya dana cukup untuk kampanye dan tak punya dana cukup untuk mengumpulkan dana kampanye.
  2. Bahkan kandidat menggunakan dana para konglomerat hitam dalam kampanye kandidat dan atau juga menggunakan dana hasil korupsi.
  3. Salah mengalokasikan pos-pos modal yang ada serta tak bisa menentukan skala prioritas alokasi dana yang sudah pas-pasan sehngga jadi keteteran
(dikutip dan disarikan dari buku "The President Maker" tulisan Yon Hotman)

Thursday, October 9, 2008

Akses dengan Pejabat Pusat Masih Jadi Andalan Kampanye Caleg di Daerah


Kandidat PAN, Yusrizal, Caleg DPRD Kota Bekasi sedang berinteraksi dengan Warga dan Lurah Bekasi Jaya, Bekasi Timur dalam satu kegiatan Fogging (pengasapan) DBD



Caleg Kota Bekasi, ZAIMAN MAKMUR AFFAN dengan EDHIE BASKORO YUDHOYONO Ketua Bidang Kepemudaan Partai Demokrat dalam satu acara pertemuan di DPP Partai Demokrat





Beragam tehnik dan strategi Kampanye dilakukan oleh para CALEG partai saat mereka mengatur komunikasi massa di media apapun. Dengan menunjukkan aktivitas kegiatannya yang memiliki akses langsung ke pusat, masih merupakan primadona strategi kampanye total yang dilakukan oleh banyak kandidat.

Yang jadi masalah adalah, bagaimana dengan kandidat yang kebetulan ditunjuk oleh partai di kepengurusan pusat, sementara ia tidak aktif di kepengurusan tingkat daerahnya, atau sebalik, seorang caleg yang kebetulan adalah tokoh masyarakat yang ditunjuk oleh pengurus partai namun tak mempunyai akses langsung ke petinggi partai, bagaimana mereka bisa menjual kedekatan dan akses yang dia tak pernah miliki.

Inilah kelebihan dari kader yang banyak membangun jaringan komunikasi dengan beragam golongan dan level masyarakat, baik itu strata terendah maupun hingga strata atas. Artinya adalah, bahwa orang yang menyambung tali silaturrahim jauh lebih memiliki peluang untuk memenangkan persaingan dalam hal apapun, ya dunia perdagangan maupun politik.

Sementara buat mereka yang susah bergaul dengan kalangan tertentu, misalnya kader atau kandidat caleg yang hanya biasa bergaul dengan kalangan elit maka ia akan mengalami kesulitan membangun jaringan di akar rumput, sedangkan mereka para caleg yang terlalu sering bergaul dengan masyarakat kelas bawah, belum pernah punya akses dengan kalangan petinggi juga akan mengalami hal yang serupa.

Jadi di dalam memenangkan kampanye pada Pemilu 2009 mendatang, adalah mereka yang bisa berinteraksi secara langsung dan efektif kepada semua kalangan, dimana dengan segala dip-lomasi dan dialektikanya, akan terbukti apakah ia memang pantas dan layak serta cukup berkualitas untuk menjadi wakil rakyat dan duduk di kursi dewan yan g terhormat.

Semakin banyak seorang caleg mempunyai akses di kalangan elit politk dan semakin banyak dia membuka keran komunikasi yang interaktif dengan rakyat kecil, maka dia sudah memenangkan pemilu sebesar 50 persen dari persaingan dengan lawan maupun kawan dalam memeprebutkan suara.

Jadi Caleg yang mempunyai kegiatan yang melibatkan semua pihak, pastilah dia akan terlihat langsung verinbteraksi dengan konstituennya dan inspirator partainya. Tugasnya sebagai motor bagi visi misi dan program partainya, merupakan langkah taktis membangun jaringan yang pastinya sangat penting dan tak bisa diabaikan.

Namun begitu, sekalipun ia berhasil membangun komunikasi dengan jaringan akar rumput dan membuka akses dengan kalangan elit, tapi tidak bisa mengkomunikasikan secara kuantitatif dan efektif tepat ke sasaran, makanya jaringan yang dimilikinya jadi sia-sia tak berarti. Sama seperti seorang yang banyak memiliki senjata dalam berperang namun tidak bisa menggunakan dan bahkan tidak bisa membawa senjatanya walau sekadar untuk menakuti musuhnya.

Di sinilah peran alat komunikasi massa dalam kampanye menjadi sangat urgent (MENDESAK). Bila salah mengkomunikasikan apa yang menjadi aspirasi bawah kemudian ia bawa ke atas (bottom up) maka sama buruknya bila ia tidak bisa mensosialisasikan kebijakan dari atas (top-down) ke masyarakat pendukungnya.

Memang tugas seorang duta (representative) atau wakil rakyat sangatlah sulit, namun akan terasa lebih sulit, bila ia tidak tahu tugas dan fungsinya yang sejatinya adalah seorang wakil dari ribuan bahkan ratusan ribu suara rakyat buat pemerintah. Jadi keberpihakan yang sesungguhnya adalah ia harus lebih mau mendengarkan dengan seksama dari Rakyat dan kemudian menyuarakannya kepada penguasa (pemerintah).

Emakin pandai ia membawa diri dan menyampaikan aspirasi rakyat kepada pemerintah yang ada dalam pengawasannya, maka semakin besarlah pahala (reward) bukan saja dari Tuhannya tapi juga rakyat pendukungnya. Dari aksioma ini, maka bisalah diterima sebuah adagium yang sangat terkenal, Vox Populi, Vox Doi (Suara Rakyat adalah Suara Tuhan). Demikian pula ajaran agama banyak mengatakan seperti hal itu.

Sunday, October 5, 2008

Pengalaman lucu dan aneh dengan Lilis Karlina, Sang Artis Dangdut Nan Seksi

Bersama Lilis Karlina saat di Restoran Gurih milik Is Anwar

Entah kenapa saya kok mau-maunya menghubungi artis papan atas seperti Lilis Karlina, karena alasan sepele ingin mempertemukan, si Janda Cantik itu, dengan kandidat calon bupati Subang. Yang akhirnya tidak jadi, kemudian saya ganti dengan alasan lain yang jauh lebih sepele lagi.... Ingin mempertemukan Lilis Karlina dengan seorang Anggota DPR yang cukup berusia, bpk Is Anwar.

Pada mulanya ide datang setelah saya bertemu dengan pak Is di kantornya Is Plaza, lantai 11 dengan tujuan wawancara dan mencari peluang job, entah itu penulisan, jasa investigasi atau pembuatan web design maupun penerbitan blogspot. Yah apa sajalah. Anehnya, saat kami sudah bermenit-menit diskusi tentang peta perpolitikan, sang politisi gaek yang kaya dengan pengalaman sebagai wartawan dan penulis artikel di banyak media ini, sesekali melemparkan joke, bvahwa dirinya tidak sesuci dan sehebat yang mungkin saya tangkap saat berbindang-bindang dengan beliau. (Padahal memang saya menganggap beliau sebagai orang tua saya sendiri, bukan karena saya anak yatim yang kehilangan ayah saat usia 6 tahun ditinggal mati ayah. Namun karena keluasan wawasan dan sifat kebapakannya yang menyenangkan).

Pak Is sempat bercanda, kalau dirinya melihat wanita cantik seperti Lilis Karlina, yah normal saja bila masih bisa tergoda. Saya pun tertawa, dan melihat itu sebagai "isyarat" walaupun saya tahu itu hanya intermezo saja. Timbul dalam benak saya, apabila saya bisa memperkenalkannya dengan Lilis Karlina, mungkin saya bisa mendapatkan peluang membuat apa saja yang bisa menghasilkan uang. Awalnya saya mau membuat film layar lebar dari buku biografinya. Walaupun saya sadar betul, saya nggak punya pengalaman di bidang perfilman, tapi saya banyak kenalan artis dan produser yang pastinya mereka akan siap membantu saya.

Tapi permasalahan tidak sesederhana itu, sekalipun saya telah mempertemukan Lilis Karlina dengan pak Is, tapi pak Is malah memberikan opsi baru buat saya. Menurutnya, bila ada produser film yang mau membiayai pembuatan sinetron dibandingkan film seperti yang saya tawarkan berdasarkan biografinya, tentu hal itu pastilah bisa menjadi peluang pekerjaan bagi saya.

Hualah.... Saya sudah mencoba berkonsultasi dengan teman saya. Mulai dari artis, seperti Joe Soetisna, si komedian dari Project P, yang sering membuat film dan memerankan beberapa film serta program televisi hingga temen-teman yang juga produser, seperti mbak Dina Mariana. Bahkan sempat Dina dan krunya yang juga produser sempat mau bertemu dengan pak Is di IS Plaza,tapi entah kenapa kami tak jadi bertemu di sana, mungkin saya terlambat karena harus bertemu dan menjemput Lilis Karlina. Menurut Joe dan Dina Mariana sangatlah sulit untuk membuat sebuah film sinetron (setelah saya mencoba tawarkan film layar lebar ke Pak Is, beliau memepertimbangkan untuk dibuat sinetron). Akhirnya saya semakin merasa sulit, walau tidak mengendurkan semangat untuk mencari obyekan apapun asal halal.

Lucunya, teh Lilis Karlina, sempat salah paham, bahkan ia menawarkan untuk membuat album dangdut Minang yang akan dinyanyikannya untuk pak Is, asal beliau mau memodali produksinya. Padahal bukan itu tujuan sesungguhnya. Memang saya akui, saya mengundang Lilis Karlina bertemu Is Anwar, sebagai katalis saja dan ingin tahu reaksi Pak Is saat saya menanggapi joke/intermezo-nya, yang mungkin masih mau lah ketemuan dengan artis seperti Lilis Karlina, (Hehehehe, untung saja dia nggak minta ketemuan sama artis kayak Dewi Persik, bisa-bisa saya dan/atau pak Is jadi serbuan wartawan infotainment).

Tahu kan apa fitnahnya (dalam bahasa Islam) atau isyu-nya yang akan berkembang bila saya jadi mencari tahu no HP Dewi Persik dan mempertemukannya dengan Pak Is Anwar.... Hahahahaha pasti heboh... Sekalipun semua orang tahu, bila Is Anwar adalah anggota Badan Kehormatan DPR RI. (Emang kenapa kalo anggota BK DPR RI? hihihi)

Banyak hal yang menggelikan saat saya harus menjemput Lilis Karlina di satu tempat di Senayan. Itupun kalo nggak mau disebut hal yang paling memalukan buat saya saat mencoba menjemput (hmmmm, tepatnya bukan menjemput kali ya? Soalnya, saya naik kendaraan umum ke Senayan, mencari Lilis Karlina, di TGIF. (Sempet-sempetnya saya celingukan mencari mobilnya Lilis Karlina, yang bernomor plat inisial namanya itu, B 555 LK.

Lilis Karlina menunggu cukup lama, sendirian di Cafe TGIF Senayan (dan saya yakin, pasti dia sedikit kesal menunggu saya, karena saya terlalu lama dan terjebak macet saat dalam perjalanan dan hanya berkomunikasi via HP. Mulai naik bis, taxi dan terakhir ojek, untuk mensiasati macet, supaya bisa ketemu artis dangdut yang masih cantik itu.

Dasar lagi apes, uang di kantong tinggal 50.000 perak. Jangan tanya ATM atau kartu kredit. Saya nggak punya duit sepeser pun di Bank, karena habis ditagih Debt Collector, jadi saya udah kapok untuk punya kartu kredit lagi. Pokoknya saya bangkrut habis, cuma modal selembar 50.000an, itu saja. Temen-temen saya sempat memepringatkan, agar jangan terlalu lama dan mengikuti LK kalo nggak ada modal duit cukup, tapi saya tetap ngotot. Mau tahu samapi seberapa jauh saya bisa bersama LK. Dan akhirnya, hanya seorang LILIS KARLINA yang keluar uang dari dompetnya dan saya nggak keluar sesenpun... jadi ketahuan deh kelasku.... (Ternyata nih wartawan bener-bener nggak modal... begitu kali yang ada di pikiran LK)

Akhirnya saya masuk ke pintu TGIF Senayan, dan tampak mobil LK diparkir tepat di depan pintu masuk cafe besar itu. Wah, yang kayak gini neh, perasaan dan intuisi saya sudah mengingatkan bakal ada hal nggak enak yang akan saya alami. Tapi masa bodo, ini kan artis dangdut kelas papan atas. Nggak rugi-rugi amat lah... kalaupun harus saya berkorban perasaan ketemu dia. Dan di dalam cafe, si janda cantik sedang duduk dengan kaki telipat, dan baju sutera yang halus lembut dan sedikit transparan. Pasti baju yang mahal,saya sudah mengira itu. Sejumlah laki-laki tampak memperhatikan kami yang saling bertegur sapa, saya nggak tahu, apa ada rasa iri di pandangan mereka. Tapi yang jelas, ada sedkit bangga di dada, karena bisa bertemua dengan LK.

Saya pun menyapa LK dengan sebutan Teteh. "Maaf Teh, saya susah sekali bebas dari macet, sampe berapa kendaraan saya naiki..."
LK hanya tersnyum, dan dia menawarkan saya untuk minum, tapi saya menolaknya dengan sopan, karena saya pikir Pak Is mungkin sudah menunggu pula terlalu lama di Is Plaza.

Setelah berbasa-basi sejenak, akhirnya kami pun keluar. Dan LK menanyakan apakah saya bisa membawa mobilnya. Tanpa ragu saya bilang ya bisa. Ternmyata mobil LK adalah mobil transmisi otomatis... Agak kikuk awalnya, sempat LK mengajari saya, lucunya lagi saat saya mencari kopling dan rem tangan. Rupanya tidak ada rem tangan, tapi rem kaki yang ada di bawah dan dekat biasa kopling. Karena transmisi otomatis, jadi saya perlu belajar beberapa menit dari LK. Saya nggak perlu merasa malu, karena berkali-kali saya bilang, saya memang belum pernah mengendarai mobil mewah, tapi hanya butuh penyesuaian sekitar beberapa puluh menit, pasti akan lancar. Dan benar kurang dari 15menit, akhirnya saya menguasai sedan Toyota Camry itu,bahkan saya sempat menggeber di atas 120 km/jam saat setelah masuk jalan tol menuju pramuka (Hah? Memang kalo digeber 120 km/jam itu bisa dibilng ngebut? Hahaha)

Intinya pertemuan dengan pak Is sukses, walaupun akhirnya kami datang terlambat, dan pak Is sudah tenggelam dalam kesibukan olahraganya. Yang bikin saya heran, ternyata pak Is masih kuat bertanding pingpong hingga berapa putaran, dia memang bilang bila dia ada pertandingan tenis meja di kantornya setelah jam 4. Sedangkan kami baru sampai setelah jam 4. Artinya, hari itu saya bener-bener blunder bikin kesalahan yang buanyak buanget.

Ah sudahlah, pokok permasalahannya, LK ketemu dengan Is Anwar. Selanjutnya terserah anda... saya mencoba melucu sama teteh LK. Sebenarnya saya mau langsung pulang setelah pertemyuan yang diakhiri dengan makan di rumah makannya pak Is, restoran "Gurih", dengan Jus jagung dan makanan lainnya, tapi LK sepertinya sedang enggan, atau karena kecewa karena pak Is tidak begitu punya banyak waktu untuk berbicara dengan kami berdua. Itupun setelah pak beristirahat sebentar dari permainan bola pingpongnya, ia menemui kami yang menunggu di restoran "Gurih". Setelah memberikan kartu nama dan menyuruh anak buahnya memebrikan minuman spesial Jus Jagung, ia kembali bermain tenis meja untuk melanjutkan turnamen dengan rekan bertandingnya.

Puah....! Saya sebenarnya sedkit kecewa, tapi lebih kecewa Lilis Karlina, karena dia berharap ada proyek yang bisa dia dapatkan dari pertemuan itu (mungkin ini baru perkiraan saya saja terhadap LK). Selanjutnya saya mencoba menghibur LK, saat dia hendak pulang. Pada awalnya saya hanya ingin mengantarkan dia keluar dari jalan Pramukan menuju Senayan, selanjutnya karena kekonyolan saya, yang tidak bawa uang keculai selembaran 50.000an, malah mengiktui LK berbelanja dan meneruskan dengan makan malam bertemu dengan teman-temannya yang mahasiswa PTIK dan masih bertugas baik itu yang di Polda atau Polsek entah dimana.

Pokoknya, hari itu hingga malam, adalah hal yang paling memalukan buat saya, sekaligus juga menyebalkan, mungkin bagi LK, karena saya sudah menghitung-hitung dari awal, bila LK telah mengeluarkan biaya lebih dari sejuta, mulai dari belanja pakaian buat shoenya yang di kalimantan pada Sabtu di minggu berikutnya, dan belanja makan malam di satu kafe di Kemang. Sempat kami bertemu dan melihat Wulan Guritno dengan seorang rekannya makan malam di sana. (Waktu itu saya tidak tahu, kalau Wulan Guritno jadi caleg dari satu partai politik). Sepertinya Wulan Guritno juga tahu bila kami memperhatikannya, dan ia pun sempat melihat ke arah kami. Dan saya tahu, bila dia bukan penggemar acara infotainment. Jadi nggak akan persuli kenapa LK malam itu duduk dengan beberapa calon perwira polisi, dan saya sang wartawan gembel. Oh ya hampir lupa, juga adik kandung LK, si Udin, yang kebetulan sedang ngurus mobilnya yang satu lagi karena rusak kecelkaaan dan sedang mengurus klaim asuransi.

Singkatnya saya benar-benar mendapat pengalaman paling aneh dan tidak menyenangkan dengan LK, tapi saya kok rasanya seperti menikmati. Tapi bagaimana, bisa saya nikmati? Sewaktu saya mengemudikan mobilnya saja, saya mana berani melihat ke arah LK yang duduk dengan gaya bebasnya mengangkatkan kaki dan merokok ke atas dashboard. Jangan dibayangkan, saya hanya memperkirakan saja apa yang bisa saya bayangkan seandainya saya jadi dashboardsedan mewah itu. Hmmmm.

Lilis ternyata enak diajak bicara tentang hal apa saja, tapi suasana jadi kaku ketika saya menanyakan tentang suami-suaminya. (huuuuh, bodohnya mulut wartawanku menanyakan hal itu-- kayak wartawan infotainment aja).

Ah teh Lilis yang baik, sekalipun kamu janda cantik. Tapi nggak nampak di mata saya kalau kamu tuh kelimpungan atau kebingungan, walau saya menangkap selarik kerinduan dan kegalauan dari sinar matanya. Saya tahu itu adalah pandangan mata seorang wani9ta yang sama saja dimana pun ia berada. Dan aku pernah melihat pandangan itu pada mata ibu saya saat beliau masih muda dan ditinggal mati bapak saya. Saat itu ibu saya masih terbilang cantik lah, dan banyak sekali lelaki yang menghampiri untuk meminangnya.... Ya pandangan seorang wanita yang sedang bingung untuk mencari pelindung namun tak kuasa menahan segala kekuatiran dan ketakutan.

Sempat Lilis menyatakan, kalau mencari lelaki itu susah di kota Jakarta ini. Kalau ada lelaki baik, tapi ternyata homo lah, ternyata tukang morotin lah, atau ternyata sudah beristrilah... atau segala kekuatiran yang mungkin terjadi ada dalam benak seorang Lilis Karlina.


Kontak XAMthone Plus Bekasi (021)606.36235 - 081.385.386.583

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ChatBox

Popular Posts