English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Informasi berita tentang kandidat caleg, pemilukada dan pilpres di Indonesia - Kontak Redaksi: (021)271.01.381 - (021)606.36235, Hotline: 08787.882.1248 - 081.385.386.583

Korupsi jangan dijadikan budaya! Pilih pemimpin yang cinta rakyat, bukan cinta kekuasaan! Bagian Iklan Hubungi (021)27101381 - 081385386583


Showing posts with label Kampanye. Show all posts
Showing posts with label Kampanye. Show all posts

Saturday, October 11, 2008

Inikah modal dan model diri Anda menjadi CALEG di Pemilu mendatang?

Kesalahan (blunder) yang sering dilakukan politisi belum berpengalaman adalah:

  1. Membiarkan sesama tim untuk saling berebut cari perhatian tanpa kerja.
  2. Mempercayakan pekerjaan profesional pada keluarga atau teman dekat.
  3. Tak memiliki jadwal pasti kapan dan dimana rapat atau kegiatan pertemuan diadakan.
  4. Tak memiliki agenda rapat yang jelas.
  5. Tak menunjuka pemimpin rapat yang kompeten karena merasa sang pemimpin (sang kandidat) bisa sendiri.
  6. Melibatkan orang-orang baru dalam setiap rapat atau pertemuan tanpa penjelasan sebelumnya kepada tim.
  7. Tidak ada perencanaan dan evaluasi karena lebih memilih improvisasi dadakan.
  8. Kerap muncul kebingungan karena tak ada penjelasan tentang apa yang sudah dan sedang dan akan dikerjakan tim.
  9. Membiarkan banyak juru bicara dan pengatur acara hingga potensial saling bertabrakan. Akibatnya pihak luar merasa dipermainkan sementar yang bersangkutan berusaha cuci tangan selamatkan muka.
  10. Menggunakan fasilitas birokrasi pemerintah untuk penggalangan kepentingan pribadi.
  11. Menjadikan karyawan di pemerintahan sebagai tim kampanye.
  12. Menggunakan waktu dan enerji birokrat yang mestinya untuk pelayanan publik menjadi pelayan kepentingan pribadi.
  13. Melibatkan pejabat militer yang masih dan sedang aktif sebagai tim kampanye.
  14. Tak ada grand design tentang bagaimana sesungguhnya strategi dan taktik untuk menang.
  15. Tak ada perencanaan tentang kapan eksekusi grand design tersebut, siapa eksekutor, bagaimana evaluasi dan sanksi jika terjadi kekeliruan.
  16. Struktur organisasi dibuat hanya untuk aksesoris, karena sang kandidat sendiri dan keluarga yang mengatur semuanya.
  17. Pendelegasian kerja sering tumpang tindih antar satu tim dengan tim lainnya.
  18. Pidato makro ekonomi saat rakyat di lingkungannya lapar membutuhkan nasi.
  19. Hobi meetang-meeting hasil nothing.
  20. Lebih suka bicara ketimbang mendengar
  21. Rajin bayar konsesi pada cukong dan elite koalisi hingga menjadi ekonomi biaya tinggi.
  22. Menikmati kecemasan orang lain dalam penantian.
  23. Lebih memilih tawar menawar posisi ketimbang kehilangan kursi.
  24. Merasa terancam secara psikologs jika ada orang lain yang lebih cerdas.
  25. Cepat lupa pada orang yang berjasa ketika hajat mendesaknya sudah terpenuhi.
  26. Bagi-bagi ursi untuk famili.

Bila di atas adalah kesalahan blunder yang sering dilakukan politisi tak berkualitas, maka inilah citra yang akan dilihat publik dalam diri kandidat caleg, pilkada atau pilpres:

  1. Pintar namun tidak cerdas
  2. Tidak piawai mengorkestrasi potensi dan legitimasi
  3. Peragu dan tak tegas
  4. Kerap janji dan jarang bukti
  5. Instruksi-instruksi tanpa aksi dan sanksi
  6. Anti kritik dan doyan pujian
  7. Phobia unjuk rasa karena erbiasa upacara
  8. Wira-wiri ke luar negeri (luar kota) saat tsunami (bencana) silih berganti di tengah masyarakat.

Berikut ini hal-hal lain yang membuat para kandidat (caleg, cabup, cawabup, cawali, cagub, capres) tidak akan terpilih:

1. Berkampanye saat rakyat sedang berduka entah karena ditimpa kelaparan, bencana silih berganti.

2. Berkampanye saat umat beragama sedang khusyuk menjalankan ibadah.

3. Sering-sering berbohong pada media

4. Muncul dengan gaya orang lain dan bukan diri si kandidat yang sebenarnya.

5. Selalu serius dan tak pernah sekalipun humor saat bicara di depan umum.

6. Tak pernah menjawab apa yang ditanya media tapi berbicara apa yang kandidat mau.

7. Berulang-ulang mengutarakan kebanggan kandidat atas prestasi yang sudah kandidat buat sehingga orang menjadi muak karenanya.

8. Mengatakan bahwa kandidat adalah keluarga yang paling berbahagia di banding lawan politiknya.

9. Tak memiliki database lengkap nama-nama media massa cetak ataupun elektronik, baik di daerah maupun di pusat.

10. Tak ada pemetaan tentang siapa pemilik, pengelola dan para wartawan media massa.

11. Tak ada anggota tim yang masing-masing bertanggung jawab terhadap setiap media massa.

Kontras

  1. Gaya dan bicara kandidat tak berbeda dari lawannya.
  2. Materi atau isu yang diangkat dalam kampanye tidak menarik
  3. Problem dan solusi yang kandidat tawarkan tak berbeda dengan lawannya.
  4. Penampilan kandidat biasa-biasa saja tak membuat orang terpana.
  5. Kandidat tak mempunyai warna khas istimewa yang jadi ciri atau merk kandidat.
  6. Sajian atau atraksi panggung kampanye kandidat membosankan,

Koalisi

  1. Kampanye kandidat tak melibatkan tokoh-tokoh lain yang punya reputasi di tengah masyarakat
  2. Kandidat menutup diri berkoalisi dengan partai atau kelompok masyarakat lain.
  3. Tak pernah ada keran komunikasi dengan jaringan akar rumput ataupun elit politik.

Konfiden (Rasa Percaya Diri)

  1. Kandidat memperlihatkan rasa tak percaya diri bahwa ia akan menang.
  2. Lebih mempercayakan orang lain baik keluarga saat seharusnya kandidat menyampaikan sesuatu penjelasan kepada media.
  3. Kuatir menggunakan media, karena kekurangannya bisa terekspos bila salah ucap dan salah bicara. Dan tidak berusaha untuk membuat press-release atau konsep jawaban yang tertulis atas setiap kejadian yang datang.

Kapital

  1. Kandidat tak punya dana cukup untuk kampanye dan tak punya dana cukup untuk mengumpulkan dana kampanye.
  2. Bahkan kandidat menggunakan dana para konglomerat hitam dalam kampanye kandidat dan atau juga menggunakan dana hasil korupsi.
  3. Salah mengalokasikan pos-pos modal yang ada serta tak bisa menentukan skala prioritas alokasi dana yang sudah pas-pasan sehngga jadi keteteran
(dikutip dan disarikan dari buku "The President Maker" tulisan Yon Hotman)

Thursday, October 9, 2008

Akses dengan Pejabat Pusat Masih Jadi Andalan Kampanye Caleg di Daerah


Kandidat PAN, Yusrizal, Caleg DPRD Kota Bekasi sedang berinteraksi dengan Warga dan Lurah Bekasi Jaya, Bekasi Timur dalam satu kegiatan Fogging (pengasapan) DBD



Caleg Kota Bekasi, ZAIMAN MAKMUR AFFAN dengan EDHIE BASKORO YUDHOYONO Ketua Bidang Kepemudaan Partai Demokrat dalam satu acara pertemuan di DPP Partai Demokrat





Beragam tehnik dan strategi Kampanye dilakukan oleh para CALEG partai saat mereka mengatur komunikasi massa di media apapun. Dengan menunjukkan aktivitas kegiatannya yang memiliki akses langsung ke pusat, masih merupakan primadona strategi kampanye total yang dilakukan oleh banyak kandidat.

Yang jadi masalah adalah, bagaimana dengan kandidat yang kebetulan ditunjuk oleh partai di kepengurusan pusat, sementara ia tidak aktif di kepengurusan tingkat daerahnya, atau sebalik, seorang caleg yang kebetulan adalah tokoh masyarakat yang ditunjuk oleh pengurus partai namun tak mempunyai akses langsung ke petinggi partai, bagaimana mereka bisa menjual kedekatan dan akses yang dia tak pernah miliki.

Inilah kelebihan dari kader yang banyak membangun jaringan komunikasi dengan beragam golongan dan level masyarakat, baik itu strata terendah maupun hingga strata atas. Artinya adalah, bahwa orang yang menyambung tali silaturrahim jauh lebih memiliki peluang untuk memenangkan persaingan dalam hal apapun, ya dunia perdagangan maupun politik.

Sementara buat mereka yang susah bergaul dengan kalangan tertentu, misalnya kader atau kandidat caleg yang hanya biasa bergaul dengan kalangan elit maka ia akan mengalami kesulitan membangun jaringan di akar rumput, sedangkan mereka para caleg yang terlalu sering bergaul dengan masyarakat kelas bawah, belum pernah punya akses dengan kalangan petinggi juga akan mengalami hal yang serupa.

Jadi di dalam memenangkan kampanye pada Pemilu 2009 mendatang, adalah mereka yang bisa berinteraksi secara langsung dan efektif kepada semua kalangan, dimana dengan segala dip-lomasi dan dialektikanya, akan terbukti apakah ia memang pantas dan layak serta cukup berkualitas untuk menjadi wakil rakyat dan duduk di kursi dewan yan g terhormat.

Semakin banyak seorang caleg mempunyai akses di kalangan elit politk dan semakin banyak dia membuka keran komunikasi yang interaktif dengan rakyat kecil, maka dia sudah memenangkan pemilu sebesar 50 persen dari persaingan dengan lawan maupun kawan dalam memeprebutkan suara.

Jadi Caleg yang mempunyai kegiatan yang melibatkan semua pihak, pastilah dia akan terlihat langsung verinbteraksi dengan konstituennya dan inspirator partainya. Tugasnya sebagai motor bagi visi misi dan program partainya, merupakan langkah taktis membangun jaringan yang pastinya sangat penting dan tak bisa diabaikan.

Namun begitu, sekalipun ia berhasil membangun komunikasi dengan jaringan akar rumput dan membuka akses dengan kalangan elit, tapi tidak bisa mengkomunikasikan secara kuantitatif dan efektif tepat ke sasaran, makanya jaringan yang dimilikinya jadi sia-sia tak berarti. Sama seperti seorang yang banyak memiliki senjata dalam berperang namun tidak bisa menggunakan dan bahkan tidak bisa membawa senjatanya walau sekadar untuk menakuti musuhnya.

Di sinilah peran alat komunikasi massa dalam kampanye menjadi sangat urgent (MENDESAK). Bila salah mengkomunikasikan apa yang menjadi aspirasi bawah kemudian ia bawa ke atas (bottom up) maka sama buruknya bila ia tidak bisa mensosialisasikan kebijakan dari atas (top-down) ke masyarakat pendukungnya.

Memang tugas seorang duta (representative) atau wakil rakyat sangatlah sulit, namun akan terasa lebih sulit, bila ia tidak tahu tugas dan fungsinya yang sejatinya adalah seorang wakil dari ribuan bahkan ratusan ribu suara rakyat buat pemerintah. Jadi keberpihakan yang sesungguhnya adalah ia harus lebih mau mendengarkan dengan seksama dari Rakyat dan kemudian menyuarakannya kepada penguasa (pemerintah).

Emakin pandai ia membawa diri dan menyampaikan aspirasi rakyat kepada pemerintah yang ada dalam pengawasannya, maka semakin besarlah pahala (reward) bukan saja dari Tuhannya tapi juga rakyat pendukungnya. Dari aksioma ini, maka bisalah diterima sebuah adagium yang sangat terkenal, Vox Populi, Vox Doi (Suara Rakyat adalah Suara Tuhan). Demikian pula ajaran agama banyak mengatakan seperti hal itu.

Kontak XAMthone Plus Bekasi (021)606.36235 - 081.385.386.583

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ChatBox

Popular Posts